Menu Close

ARTIKEL 67:

Paula Dumas: Keseimbangan dalam KehidupanKerja (Work-Life Balance)

Kerap kali kita membutuhkan platform organisasi untuk petualangan paruh kedua kita. Paula Dumas sungguh menikmati paruh pertamanya, mempelajari seni pemasaran dari beberapa organisasi yang terbaik di Amerika: Frito Lay, CNN, Apple, Disney, dan Kodak.

Setelah mengambil cuti setahun untuk fokus kepada keluarganya, ia memutuskan untuk masuk kembali ke marketplace dan pencariannya bermuara pada dua organisasi. Di satu sisi, ada pekerjaan yang untuk mendapatkannya, ia “harus melalui banyak tantangan.” Ia telah lulus dari semua tes IQ dan background check (pengecekan riwayat pendidikan/pekerjaan/aktivitas). Perusahaan itu memiliki salah satu produk dengan merek terkemuka di dunia, dan ia ditawari “gaji yang fantastis” dan mobil “Porsche dengan warna kesukaannya.” (Sebagai pencinta tenaga kuda, kata Porsche terdengar cukup menggoda bagi saya.) Di sisi lain, ada pekerjaan di FamilyLife, sebuah organisasi nirlaba yang tampaknya hanya menawarkan bagian kecil (fraction) dari pekerjaan yang satu lagi.

Banyak Halftimer yang memiliki dampak pelayanan yang besar dalam pekerjaan mereka yang bergengsi di perusahaan Amerika, tetapi Paula telah menjalani pekerjaan semacam itu dan sekarang ia tahu ke mana dia harus pergi. Awal tahun itu, pada acara Halftime yang saya fasilitasi di Atlanta, ia termasuk di antara beberapa lusin pemimpin marketplace yang kami perkenalkan kepada konsep pelayanan inovatif yang berdampak pada kota mereka. Pada acara itu, katanya, ia merasakan kerinduan yang jelas untuk sesuatu yang lebih dari sekadar pekerjaan lain—ia mencari panggilan (calling). “Apakah saya benar-benar ingin membantu menyelamatkan pernikahan orang sehingga mereka dapat memiliki dasar yang kuat untuk membesarkan anak-anak dan tahu bagaimana menerapkan firman Allah dalam kehidupan keluarga (family life) mereka?” tanyanya pada dirinya sendiri. “Atau haruskah saya menjual mobil atau minuman ringan lain kepada mereka yang sebenarnya tidak mereka butuhkan dalam hidup? Itu hanya semacam keputusan yang sangat sederhana pada saat itu. . . tidak ada artinya menjadi serakah untuk mengejar kesempatan lain, kecuali saya pikir saya bisa melakukan pelayanan yang hebat di lingkungan itu, tetapi saya tidak punya indikasi apa pun bahwa itu benar.”

Paula menyadari akan karir profesionalnya—tekanan yang menimpa keluarganya demikian pula pelatihan tingkat tinggi dan pengalaman luas yang menyertai kesuksesan—telah mempersiapkannya dengan sempurna untuk memimpin upaya-upaya pemasaran untuk organisasi Family Life (Kehidupan Keluarga). Tapi bukan itu yang dia bayangkan untuk memulainya. “Awalnya, saya memiliki semacam ambisi skala besar,” katanya. “Saya ingin menjangkau bangsa dan menjangkau dunia, jadi saya sangat tertarik pada organisasi yang memiliki distribusi yang sangat luas dan merek komersial yang kuat. Pelayanan tidak tertangkap oleh radar saya kecuali untuk skala pribadi.” Pada usia 20-an, saat baru lulus kuliah dan bekerja untuk Frito-Lay, Paula mengelola anggaran iklan sebesar 70 juta dolar dengan tiga agensi dibawah kewenangannya. Kesuksesannya membuat ia mempunyai peluang untuk bekerja di CNN. Dia juga menikah, dan segera ia mulai bergulat dengan konflik menyeimbangkan pernikahan, keluarga, dan karir yang sangat menuntut dalam industri yang juga sangat menuntut. “Pernikahan kami diuji besar-besaran,” katanya. “Kami sudah hampir berpisah di tahun pertama itu, tetapi kami bertahan. Itu menjadi lebih baik dan lebih baik setiap tahun, hanya setelah kami mengalami beberapa cobaan-cobaan, sebagian besar disebabkan oleh karir saya dan industri tempat saya bekerja.”

Paula meninggalkan CNN untuk bekerja pada perusahaan Apple dan kemudian pindah ke Disney, di mana ia membantu meluncurkan divisi start-up, yang akan mengelola kemitraan global perusahaan. Dengan setiap langkahnya, Paula belajar lebih banyak tentang profesinya dan terus mencapai tujuan-tujuannya (goals) yaitu memberi dampak luas ke penonton di seluruh dunia. Namun, ketika anak-anaknya beranjak besar, ketegangan antara karier dan keluarganya meningkat. Paula meninggalkan Disney untuk lingkungan kerja yang lebih “ramah keluarga” (family friendly), yang ditawarkan di Kodak. Tetapi kembali kesuksesan melahirkan peluang-peluang, dan segera dia mendapati dirinya lebih banyak menanggapi kebutuhan-kebutuhan korporasi dan kurang memenuhi kebutuhan-kebutuhan suami dan anak-anaknya.

“Itu adalah kegagalan saya karena tidak menetapkan batasan,” katanya. “Saya pikir Allah benar-benar memanggil saya untuk menghayati nilai-nilai saya dan menunjukkan iman saya, tapi saya tidak melakukannya.” Momen yang menentukan datang setelah ia kembali dari perjalanan bisnis empat hari. Pada suatu malam ia menelepon ke rumah saat masih dalam perjalanan bisnis tersebut, dan putranya yang saat itu berusia 7 tahun mengatakan kepadanya bahwa ia telah berkompetisi di turnamen golf pertamanya dan menang. “Kemudian saya pulang ke rumah dan menemukan bahwa dia (anaknya) ternyata bahkan ia tidak menjadi juara ke berapa pun dan bahwa ia telah berbohong kepada saya,” kata Paula. “Saya hanya menangis karena saya pikir itu sangat menyedihkan bahwa putra saya merasa perlu untuk mendapatkan pengakuan saya untuk hal seperti itu, dan saya berpikir: ‘Ini tidak benar.”

Paula membuat keputusan untuk meninggalkan Kodak, tetapi ia dapat bertahan tiga tahun lagi bekerja di sana, di bawah perjanjian yang dinegosiasikan ulang, yang menjadikan ia satu-satunya Wakil Presiden paruh-waktu di perusahaan itu. Segera ia mulai lebih menghargai hal-hal yang ia lakukan di luar pekerjaan daripada hal-hal yang ia lakukan di tempat kerja. “Pekerjaan di kantor menjadi kurang memuaskan karena pekerjaan saya dalam pelayanan (ministry) menjadi lebih memuaskan, dan tiba-tiba saya menyadari bahwa saya memberi dampak pada kehidupan orang-orang di lingkungan saya, di kelompok wanita dan di gereja saya, yang biasanya saya tidak punya waktu dan membatasi diri untuk kegiatan itu,” katanya. “Dan saya sudah pasti dapat melayani dan mengasihi anak-anak saya dan membantu suami saya dengan lebih banyak cara daripada sebelumnya. Hidup menjadi lebih memuaskan, meskipun dengan pendapatan dan gengsi karier yang lebih rendah.”

Paula akhirnya meninggalkan Kodak dan menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarganya, ia juga mengambil beberapa proyek-proyek konsultasi untuk gerejanya dan untuk perusahaan-perusahaan di sekitar rumahnya di Atlanta. FamilyLife menyediakan platform bagi Paula untuk masuk kembali ke market place dengan satu organisasi yang dipimpin oleh Dennis dan Barbara Rainey, yang sangat menghargai keluarga “FamilyLife sebenarnya menginginkan saya di rumah saja untuk bertemu bus sekolah, menjadi istri dan ibu yang saya dambakan.” Lembaga yang berbasis di Little Rock, Arkansas itu mengizinkannya untuk berperan sebagai Chief Marketing Officer meskipun ia tinggal di Atlanta, tempat bisnis kecil suaminya berada. Ia dengan cepat menyesuaikan diri dengan anggaran yang lebih kecil sambil merangkul apa yang ia lihat sebagai visi yang lebih besar.

“Saya dapat melayani dan mengasihi anak-anak saya dan membantu suami saya dengan lebih banyak cara daripada sebelumnya. Hidup menjadi lebih memuaskan, meskipun dengan pendapatan dan gengsi karier yang lebih rendah.”

“Saya telah menghabiskan begitu banyak karir saya berurusan dengan perubahan pada tingkat masal (mass level),” kata Paula. Unit peradaban yang paling dasar—keluarga—sedang dalam krisis, dan sekarang membutuhkan bantuan. Itu tantangan besar.” Namun, dalam hal skalabilitas, FamilyLife menyediakan platform organisasi bagi Paula untuk meningkatkan keterampilan pemasarannya untuk dampak global.

FamilyLife adalah organisasi yang dikelola dengan baik yang telah menyentuh jutaan keluarga–lebih dari 80.000 orang pernah menghadiri salah satu konferensi mereka setiap tahun yang bertema Weekend To Remember, dan bagi sebagian besar dari mereka konferensi itu mengubah pernikahan mereka selamanya. Jutaan orang mendengarkan program radio FamilyLife setiap minggu dan menggunakan sumber daya lembaga tersebut untuk mendapatkan bantuan dan harapan bagi keluarga mereka sendiri. Dan dengan keterampilan pemasaran Paula, mereka dapat berdampak bahkan “lebih banyak lagi” dengan Kebenaran (Truth).

Mungkinkah dia secara unik dipersiapkan untuk peran ini dan bahwa, sehebat paruh pertamanya, dampak terbesar dan petualangan paling menyenangkannya masih ada di masa depan?

“Meskipun kami memiliki anggaran yang jauh lebih kecil untuk bekerja dengan dibandingkan dengan beberapa perusahaan lain tempat saya pernah bekerja,” katanya, “lapangan ‘bermain’ kami bahkan lebih besar. Kami masih memiliki seluruh dunia untuk dijangkau, dan ini adalah kesempatan yang sangat menantang untuk dilakukan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *