Menu Close

ARTIKEL 65:

Dr. Phillip Kemp: MEMBERI SENYUM KEPADA DUNIA

Dr. Phillip Kemp duduk di bagian belakang pada satu acara Halftime, lengannya dilipat di dada saat ia mendengarkan program dengan seksama. Ekspresi wajahnya sebagaimana yang tidak asing lagi bagi saya, mengatakan “Apakah Halftime ini cocok untuk saya?”

Lalu Coach Halftime bertanya kepadanya pada hari itu, apa yang ada di pikirannya. Sebagai seorang dokter gigi yang relatif muda, Phillip memiliki praktik yang sukses di pinggiran Kota Nashville yang penduduknya makmur, tetapi ia tidak dalam posisi untuk berhenti mencari uang dan memulai atau bergabung dengan organisasi nirlaba. Ia bertanya-tanya bagaimana seorang dokter gigi memberi kembali (gives back) dengan cara yang berarti. Lagi pula, pikirnya, bukankah merawat gigi orang saja adalah kehidupan yang sudah cukup berarti? Pertanyaan-pertanyaan yang bagus, dan tidak mudah untuk dijawab. Ternyata, dia tidak harus meninggalkan praktiknya atau pindah ke negara miskin.

Platform kedokteran giginya menjadi landasan peluncurannya yang kuat untuk melayani orang lain—melayani calon dokter gigi dan untuk melayani orang miskin dan putus asa.

Saya merasa seperti Tuhan memanggil saya ke ladang misi,

yang ada di sini, di kantor ini, di Brentwood, Tennessee,”kata Phillip.

Pencarian Phillip untuk mempertemukan hasrat dan bakatnya dengan kebutuhan orang lain menghasilkan program kreatif yang sekarang ingin ditiru orang lain di seluruh negeri dan di seluruh dunia.

Hampir setiap Jumat, Phillip dan stafnya secara sukarela merawat pasien yang tidak mampu membayar perawatan, biasanya wanita yang berada dalam program pemulihan terdekat seperti Hope Center atau Mercy Ministries. Karena diterlantarkan atau mengalami pelecehan, para wanita ini sering membutuhkan perawatan gigi kosmetik yang signifikan, saat mereka membangun kembali harga diri mereka dan berusaha bisa kembali ke masyarakat.

Hal yang membuat panggilan paruh keduanya unik dan dampaknya lebih kuat, bagaimanapun, adalah lebih dari sekadar memberikan perawatan gigi gratis kepada yang membutuhkan.

Pengaruhnya memiliki manfaat karena dalam pelaksanaannya, ia menjadi mentor mahasiswa kedokteran gigi dan memberi model bagi mereka; ide bahwa praktik yang paling dihargai adalah lebih besar daripada perawatan gigi dan mencakup kebutuhan-kebutuhan hati terdalam dari pasien-pasien Anda.

Phillip membawa mahasiswa-mahasiswa kedokteran gigi dari almamaternya secara bergilir untuk menyaksikan dan membantu prosedur yang rumit, yang mungkin tidak pernah mereka lihat di lingkungan akademis mereka.

“Saya selalu ingin menjadi mentor dan mengajar dokter gigi muda dan memberi kembali (give back) kepada sesama,” kata Phillip. “Seluruh proses ini telah menjadi puncak dari impian itu.” Impian itu dimulai dengan Phillip kembali ke sekolah kedokteran giginya dan memulai percakapan dengan Dekan tentang bagaimana dia bisa melayani di sana. Dalam waktu singkat para mahasiswa datang ke kantor Phillip. Kredibilitasnya telah berkembang di universitas itu, dan sekarang ia berada pada posisi untuk mengembangkan program mentorship di seluruh wilayah Nashville. Saat para mahasiswa melihat dari atas bahunya dan mempelajari prosedur-prosedur terbaru, mereka dapat mendengar langsung dari hati Phillip tentang hasrat hidupnya untuk melayani orang lain. Phillip mampu mengangkat visi mereka lebih daripada sekadar membuka praktik yang menciptakan kekayaan menjadi memimpikan praktik yang mengubah kehidupan.

“Di sekolah, mereka hanya diajari tentang gigi: ‘Ini gigi yang menempel pada orang ini. Inilah yang Anda perbaiki,’” kata Phillip. “Kami mengambil dari keseluruhan aspek bahwa gigi hanyalah sarana … dan bahwa seluruh perawatan benar-benar melayani hati pasien. Saat itulah mereka mulai berkata, ‘Oh wow! Saya dapat memberi dampak seperti ini dengan apa yang kita lakukan setiap hari.’” Dan universitas juga mendapatkan manfaat, kata Phillip. “Dekan melihatnya sebagai sesuatu yang tidak bisa mereka berikan, dan itu sangat bermanfaat bagi mahasiswa.”

Untuk wilayah regional, Phillip berharap dapat memulai pusat pelatihan dan klinik yang menyediakan layanan murah atau malah tanpa biaya sekaligus mengajar mahasiswa kedokteran gigi, memindahkan program di luar kantornya sehingga klinik itu dapat beroperasi lebih dari hanya satu hari per minggu.

Program ini juga berdampak besar kepada para staf Phillip. Ketika pertama kali program ini dimulai, Phillip membayar stafnya untuk pekerjaan mereka setiap hari Jumat dan dia menyumbangkan waktunya. Tak lama kemudian, ketika mereka melihat dampak yang mereka alami, anggota stafnya mulai datang menemui dia, satu per satu, menawarkan untuk mengembalikan gaji mereka untuk hari itu. Akhirnya, mereka meminta untuk tidak dibayar, meskipun dia sangat bersedia untuk menyiapkan pembayaran itu sebagai biaya penyediaan layanan.

Para pasien, banyak dari mereka melihat mulut mereka sebagai pusat dari kesedihan mereka, dan mereka seringkali mendapati bahwa prosedur-prosedur itu mengubah hidup mereka. Phillip menyimpan surat-surat ucapan terima kasih, memperlihatkannya kepada para staf, istri, dan keempat anaknya. Ada satu yang sangat menyentuh hatinya. Catatan itu dari seorang gadis yang terdaftar dalam program perawatan di Mercy Ministries. Mulutnya tampak seperti jack-o-lantern (labu kuning besar yang diukir dan menjadi dekorasi perayaan Halloween di Amerika Serikat). Gigi-giginya yang masih ada, kata Phillip, “mengerikan”. Dan sebagian besar masalah mulutnya bukan karena mulutnya tidak dirawat, yang artinya mulutnya sudah bermasalah di sepanjang hidupnya.

“Sejak dia masih muda sampai kami merawatnya, dia hanya dicaci maki tanpa ampun, bahkan oleh keluarga dan teman-temannya di sekolah,” kenang Phillip. “Dia berbicara tentang bagaimana upaya yang dilakukan terhadap senyumnya tidak hanya memulihkan harga dirinya, tetapi juga kepercayaannya pada pria.”

Ketika Phillip berbicara tentang program yang menawarkan “kehidupan, kasih, dan pemulihan”, dia tidak hanya berbicara tentang memulihkan gigi dan senyum yang sehat. “Ini pemulihan kehidupan,” katanya. “Gadis ini benar-benar mengomunikasikannya.” Menjalani paruh kedua signifikansi selalu melibatkan risiko dan pengorbanan, tetapi kisah-kisah ini menegaskan kembali bagi Phillip bahwa memberikan waktu dan talentanya, ditambah lagi mengorbankan gaji sehari, sepadan dengan harganya. Memang, Phillip dan istrinya Rhonda hampir tidak melihatnya sebagai pengorbanan tetapi sebagai “paling sedikit” itu yang dapat mereka lakukan.

“Gigi-giginya yang masih ada, mengerikan. Sejak dia masih muda sampai kami merawatnya, dia hanya dicaci maki tanpa ampun, bahkan oleh keluarga dan teman-temannya di sekolah,”

“Kami hanya merasa, sebagai satu keluarga, jika kami tidak melakukan ini maka kami tidak melayani Allah,” kata Phillip. “Tidak bekerja selama beberapa kali hari Jumat untuk melakukan air dalam timba. Saya merasa apa yang kita lakukan belum cukup. ”

Itulah mengapa sangat menakjubkan melihat bagaimana Allah memakainya untuk sesuatu yang jauh, jauh lebih besar daripada yang pernah dibayangkan Phillip. Dan sebagai buah dari ceramahnya di konferensi dental, para dokter gigi dan universitas-universitas mereplikasi strateginya ini di komunitas-komunitas lain.

“Warisan yang saya pikir panggilan Allah bagi saya adalah lebih banyak tentang kemampuan saya untuk memengaruhi profesi,” kata Phillip. “Ini benar-benar lebih tentang praktisi daripada orang-orang yang kami latih untuk praktek. Bukan perawatan yang kami lakukan, tetapi apa yang kami lakukan dengan penyedia perawatan. Saya benar-benar berpikir dan merasa bahwa kita berada di puncak seluruh gerakan untuk mendidik dan membangkitkan orang untuk memberi kembali (give back). Itu akan berdampak bagi banyak orang dalam 20 tahun ke depan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *