Menu Close

ARTIKEL 42: Pelajaran Ekonomi bersama Yesus – Bagian Kedua (13 September 2022)

Saya selalu terkagum-kagum dengan apa yang terjadi ketika ada masalah muncul di satu komunitas, orang-orang akan bekerja sama dan Anda akan melihat banyak orang baik di sana yang tidak akan pernah menjadi sorotan berita malam karena pekerjaan amal mereka, namun mereka sama pentingnya dengan seorang Presiden. Ketika badai Harvey melanda Texas selatan dan mulai bergerak perlahan melintasi daratan, orang-orang segera mulai melakukan hal-hal luar biasa untuk saling menolong.

Dan, seperti biasa, ada banyak pebisnis yang membantu dan mulai memberikan barang-barang, tenaga, dan uang yang sangat dibutuhkan. Coba pikirkan itu. Yang terjadi di sana sungguh-sungguh kerusakan yang luar biasa. Banyak usaha-usaha para pebisnis itu yang juga terdampak dan banyak juga lainnya yang sedang bekerja keras agar usaha mereka dapat bertahan. Di tengah-tengah semua kesulitan itu, mereka mulai memberi.

Salah satunya adalah perusahaan bernama Gallery Furniture, satu perusahaan yang sudah lama berdiri dan ikonis yang dimiliki seorang tokoh nyata bernama “Mack si kasur” Mack dan istrinya datang ke Houston bertahun-tahun yang lalu dari Dallas hanya dengan kemeja di badan mereka dan memulai usaha Gallery Furniture di tempat yang dulunya merupakan kumpulan rumah-rumah contoh di sepanjang Interstate I-45. Bisnisnya telah berkembang secara eksponensial dari permulaan yang sangat sederhana dan sekarang memiliki penjualan yang jauh melebihi 100 juta dolar, sebagian besar semua usahanya dilakukan dari fasilitas yang sudah jauh lebih baik dan indah, yang berdiri di tempat yang sama, yaitu lokasi rumah-rumah contoh tersebut.

Ketika mulai terjadi banjir dan orang-orang mulai mengungsi, Mack melakukan hal yang luar biasa. Ia membuka ruang pamerannya untuk orang-orang yang tidak ia kenal tanpa ada persyaratan apapun. Tempat itu segera dipenuhi orang-orang yang belum pernah Mack kenal, mereka tidur di kasur yang baru dan menyantap makanan darurat mereka di meja makan baru. Ketika ditanya tentang tindakannya yang bermurah hati itu, Mack menjawab (dengan kata-kata penulis sendiri) “Masa bodoh dengan laba. Houston telah berbuat baik pada saya. Setidaknya hal kecil ini yang bisa saya lakukan.”

Mack dan para pebisnis lainnya memahami ekonomi Allah dan cara kerjanya. Sistem yang sebagian besar dari kita jalani setiap hari dibentuk dengan gagasan : dapatkan sebanyak-banyaknya yang Anda bisa, lalu simpanlah semua yang Anda sudah dapat. Benar ‘kan? Butuh lebih banyak lagi uang dan lebih banyak lagi barang dibutuhkan untuk berjaga-jaga kalau-kalau ada musibah. Mantra sistem ini adalah “Anda harus mengurus diri Anda sendiri, dan selalu simpanlah aset Anda, dan dengan segala cara, hasilkanlah lebih banyak lagi, setiap kali ada kesempatan.’

Tetapi pelajaran ekonomi Yesus dalam Matius 6 bekerja sebaliknya. Ia memulai pelajaran dengan mengatakan, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Rupanya itu tidak mungkin. Kemudian, Ia meyakinkan kita bahwa Ia mendandani bunga bakung di padang dan memberi makan burung-burung di langit sehingga Dia pasti akan memelihara kita. Dia memerintahkan kita untuk carilah dahulu Kerajaan Allah dan berjanji bahwa jika kita melakukannya, SEMUANYA itu akan ditambahkan kepadamu.

SEMUANYA. Setiap hal yang kita pikir perlu kita simpan hanya akan muncul saat kita membutuhkannya. Seluruh ide ini didasarkan pada penataan ulang sederhana tentang apa yang seharusnya kita lakukan dengan uang. Dalam model ekonomi yang umum, inilah yang kebanyakan kita lakukan ketika kita dibayar: Kita membayar tagihan, kita menabung sedikit jika kita bisa, dan kemudian beberapa dari kita memberikan persepuluhan ke gereja atau organisasi nirlaba lainnya. Jadi, agar jelasnya, uang itu untuk SAYA (tagihan), uang untuk SAYA (tabungan), dan uang untuk ORANG LAIN (persepuluhan).

Tapi Yesus mengubah semuanya terbalik. Ia berkata, alih-alih SAYA berada di kedua slot pertama, seharusnya ORANG LAIN yang terlebih dahulu, dan kemudian SAYA harus menabung dan membelanjakan apa yang tersisa. Tapi, untuk melakukan itu, kita harus benar-benar percaya bahwa Tuhan akan memelihara kita.

Inilah inti dari keseluruhan gagasan Halftime. Banyak orang tidak menyelesaikan hidupnya dengan baik dan beralih dari sukses ke signifikansi karena mereka melakukannya dengan model sistem ekonomi yang salah, model yang, sejujurnya, dibangun di atas rasa takut bukan iman.

Di sinilah poin terpenting dalam perjalanan iman kita, menurut pendapat saya. Apakah kita benar-benar percaya bahwa Tuhan mengasihi kita lebih dari bunga bakung di padang dan bahwa Dia akan memelihara kita? Jika kita melakukannya, maka berikanlah semuanya, atau melangkah keluar ke tempat yang tidak kita ketahui karena kita sedang dipimpin ke sana, sungguh masuk akal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *