Oleh Lloyd Reeb, Pengarang “Halftime for Couples”
Saya telah berkecimpung dalam bisnis perumahan untuk para lansia selama hampir 25 tahun dan saya menemukan bahwa seiring bertambahnya usia, kita gampang marah hanya karena hal-hal yang kecil dan remeh-temeh (tidak penting). Seorang ibu memanggil saya ke mejanya dan menjelaskan bahwa es krimnya terlalu dingin. Ia marah karena satu masalah yang pada akhirnya akan terselesaikan sendiri – dijamin! Saat saya berusaha menjaga untuk menenangkan diri saya sendiri, saya bertanya pada diri sendiri – bagaimana seseorang bisa sampai ke kondisi seperti ibu ini? Kapan dia mulai berpikir seperti ini? Bagaimana kemarahannya atas ketidakadilan, kejahatan, kemiskinan dibayangi oleh hal-hal sepele ini? Ada ungkapan (bahkan ada film-nya) “orang tua yang pemarah (grumpy old men)”- bagaimana seseorang menjadi orang tua yang pemarah? Apa yang harus saya lakukan agar tidak mengikuti jalan usang ini?
Teman saya Rich Stearns, Presiden World Vision Amerika Serikat dan penulis buku “The Hole In Our Gospel”, baru saja merilis buku keduanya, berjudul “Unfinished”, dan saya tertarik mengetahui bahwa dia sendiri juga telah memikirkan hal ini . Selama bertahun-tahun saya belajar banyak dari Rich jadi saya meneruskan pembelajarannya hari ini—bagaimana agar tidak menjadi pria/perempuan tua yang pemarah di paruh kedua Anda.
“Pendiri World Vision Bob Pierce dikenal karena doanya yang terkenal – ‘Biarkanlah aku menjadi patah hati oleh hal-hal yang membuat Tuhan patah hati.’ Kebenaran mendalam yang ia tangkap dalam doa sederhana ini adalah bahwa kita harus selalu berusaha melihat dunia seperti Kristus melihatnya, untuk menghargai apa yang Yesus hargai, menghargai apa yang Ia hargai, mencintai apa yang Yesus cintai dan marah pada apa yang membuat Dia marah. Apakah itu terdengar terlalu berlebihan? Apakah kita sudah menjinakkan Tuhan di abad kedua puluh satu sehingga kita telah melupakan murka Tuhan terhadap dosa dan kejahatan? Apa yang terjadi dengan kemarahan yang baik dan kuno?
Jika kita marah terhadap segala sesuatu, kita cenderung menjadi marah karena hal-hal yang remeh-temeh (tidak penting). Ketika Seattle Marines (tim bisbol profesional dari Seattle) melakukan pertukaran pemain (trade) yang buruk, para penggemar bisbol marah. Pajak properti kita naik dua persen, dan kita marah. Tapi di mana rasa duka dan kemarahan moral kita atas kenyataan bahwa satu dari lima anak Amerika hidup di bawah garis kemiskinan? Di mana kemarahan kita atas penderitaan para tunawisma di kota-kota kita? Tidak bisakah kita menemukan sedikit kemarahan bahwa sembilan belas ribu anak meninggal setiap harinya karena penyebab yang sebenarnya dapat dicegah?”