Menu Close

ARTIKEL 08: Tahapan Perjalanan Halftime Anda

Kenneth Yeung (Bagian Kedua): Foto-foto yang Menyelematkan Anak-anak Yatim Piatu

Kenneth Yeung adalah Pendiri dan Presiden Prince of Peace Enterprises, Inc, tetapi yang lebih penting, dia adalah pelayan (steward) Tuhan. Sebelum bergabung dengan Halftime, Kenneth telah menggunakan keuntungan dari kesuksesan karirnya untuk membantu keluarga-keluarga Amerika mengadopsi anak-anak dari Cina. Sekarang, dia memanfaatkan hasratnya untuk membawa kasih Tuhan kepada anak-anak yatim piatu yang cacat di Cina.
Berbekal kamera dan hati yang dengan perasaan belas kasihan, Kenneth memotret anak-anak yatim piatu ini dengan sudut pandang yang menarik, lalu menantang orang lain untuk ikutan membantu mendanai panti asuhan mereka. Kenneth mendedikasikan pekerjaannya, perjalanannya, dan hidupnya kepada Kristus. Apakah Anda sudah melakukannya?

Karier paruh pertama Kenneth adalah di bidang perumahan untuk para pensiunan. Ia juga mengoperasikan perusahaan teh yang sangat sukses di San Francisco, dan sebagian besar keuntungan dari perusahaannya itu diinvestasikan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan terdalam orang lain, bukan untuk kenyamanan atau keuntungan materi dirinya sendiri. Keuntungan dari perusahaannya telah membantu keluarga-keluarga Amerika yang mengadopsi anak-anak dari Cina.

Satu foto memang dapat berbicara seribu kata, tetapi bagi Kenneth, kata-kata di poster yang menampilkan foto seorang gadis muda Cina itulah yang berbicara kepada jiwanya: “Prioritas – Seratus tahun dari sekarang tidak akan ada artinya apa nama bank saya, apa tipe rumah yang saya tinggali, atau jenis mobil yang saya kendarai. Tetapi dunia ini akan berbeda karena saya menjadi penting dalam kehidupan seorang anak.”

Sebagai orang yang berasal dari Shantou, Provinsi Guang Dong, Cina, Kenneth lebih memahami makna di balik pesan itu. Penindasan politik memaksa ibunya mengirim dia untuk tinggal bersama kerabat di Hong Kong, di mana ia bergumul dengan masalah bahasa dan perbedaan-perbedaan budaya, serta keinginan untuk pulang ke rumah. Anak usia 11 tahun mana yang tidak rindu akan rumahnya?

Syukurlah, tetangga-tetangganya yang peduli menemui dia dan membantu dia mengatasi masalah bahasa dan kekosongan pertumbuhannya tanpa orang tua. “Saya belajar sejak dini bahwa sangat penting ada seseorang yang membantu Anda jika Anda tidak mendapat bantuan dari anggota keluarga,” kata Kenneth.

Beberapa tahun kemudian, seorang guru yang juga peduli dengan dia, memulai perjalanan spiritual bagi Kenneth. Ketika ia dewasa dalam imannya, satu hal yang pasti: Ia ingin membantu orang lain sebagai cara dia memberi kembali. Dengan penuh doa ia merenungkan karier dalam pelayanan atau pekerjaan sosial. “Tapi Tuhan punya rencana yang berbeda untuk hidup saya,” katanya. “Ia membawa saya ke San Francisco, bukan ke pekerjaan sosial, melainkan ke bisnis – dan Ia memperluas pengaruh saya jauh melampaui apa yang pernah saya bayangkan.”

Bisnis itu – perusahaan teh yang sangat sukses – beroperasi dengan kontrak tidak tertulis dengan Tuhan. “Ketika saya memulai bisnis,” katanya, “Saya memberi tahu Tuhan saya bahwa saya ingin melayani Dia. ‘Ini bisnis-Mu. Saya hanya pelayan-Mu yang mengelolanya untuk-Mu.’ Kontrak tidak tertulis itu memandu bagaimana saya memperlakukan karyawan-karyawan saya—dan bagaimana saya menggunakan dana yang dihasilkan dari bisnis ini.”

Sebagian besar keuntungan yang dihasilkan perusahaannya diinvestasikan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan terdalam orang lain, bukan untuk kenyamanan atau keuntungan materi dirinya sendiri.
Ia memulai pelayanannya dengan menggunakan keuntungan perusahaannya membantu ratusan keluarga Amerika mengadopsi anak-anak Cina, ketika itu tidak ada agen di Amerika yang tahu bagaimana melakukannya. Pada tahun 1993, Kenneth dan istrinya juga mengadopsi seorang bayi Cina, Melissa Joy.

Pada saat saya bertemu Kenneth, saya bertanya kepadanya tentang pekerjaannya dengan anak yatim piatu. Matanya berbinar-binar dan dia hanya berkata, “Apakah Anda ingin melihat foto-foto saya? Kami membangun panti asuhan di Cina.” Dia mengeluarkan satu album foto kecil, dan ia mulai memperlihatkan foto-foto paling menarik dari satu panti asuhan yang menampung 100 anak kecil, dan semuanya adalah penderita cacat. Halaman 7 album itu adalah foto dia menggendong seorang gadis kecil, dan saya terpikat oleh senyum di wajahnya. “Siapa gadis kecil ini?” tanya saya, “dan mengapa Anda tersenyum seperti itu?” Ia menyebutkan nama gadis kecil itu dan berkata, “Saya baru saja membayar dana untuk mengoperasi jantungnya. Jika tidak dioperasi, mungkin dia hidupnya tidak lama lagi.”

Di Cina, bayi perempuan sering ditelantarkan, kesempatan untuk membuat perbedaan dalam kehidupan seorang anak sangat besar—begitu besar sehingga pada tahun 1995 Kenneth memulai satu upaya yang membutuhkan waktu delapan tahun untuk membuahkan hasil.

Karena dianggap memalukan bagi keluarga mereka, orang yang cacat mental dan cacat fisik di Cina sering dibuang ke tempat sampah. Kenneth terbeban untuk membuat rumah bagi anak-anak yang tidak diinginkan ini, maka ia dengan sabar bernegosiasi dengan pemerintah China. Pada November 2003, Rumah Anak-anak Pangeran Perdamaian (POPCH/Prince of Peace Children’s Home), yang terletak di distrik Wuqing, Tianjin, dibuka. Rumah ini didanai oleh Prince of Peace Foundation dan World Vision International sebagai joint venture dengan Biro Urusan Sipil (Civil Affairs Bureau) Wuqing, fasilitas ini dapat menampung 100 anak cacat mental dan cacat fisik di bawah usia 6 tahun dan menyediakan layanan rehabilitasi bagi anak-anak cacat lainnya di provinsi tersebut.

Rumah itu menjadi preseden yang menakjubkan di Cina: Untuk pertama kalinya dalam sejarah, pemerintah mengizinkan organisasi asing untuk membangun, mempekerjakan staf, dan mengelola panti asuhan.

Saat ini, staf yang sangat terlatih dan sukarelawan yang peduli, dengan penuh kasih merangkul anak-anak yang pernah dianggap sebagai sampah masyarakat—dan mereka mengajari orang lain untuk melakukan hal yang sama.“Saya mengatakan kepada pejabat Cina bahwa kami tidak hanya akan membangun dan mengelola panti asuhan, tetapi kami juga akan mendirikan pusat pelatihan untuk menolong pengasuh-pengasuh dari panti asuhan lain di Cina,” kata Kenneth. “Apa yang benar-benar dibutuhkan pemerintah Cina adalah melihat satu model bahwa organisasi Kristen dari luar negeri dapat masuk dan membangun hal semacam ini dengan kasih dan perhatian. Saya mengatakan kepada para pejabat itu bahwa Tuhan telah mengasihi kami, dan kami ingin berbagi kasih dengan anak-anak di Cina. Mereka menerima alasan itu. Mereka bahkan mengizinkan kami untuk mengukir satu ayat Alkitab di tembok bangunan.”
Saat dia menjalani Halftime Institute, Coach Halftime-nya bertanya apakah ada hasratnya (passion) yang tidak terwujud saat ia mengejar kesuksesan di paruh pertama. Setelah beberapa detik dia berkata, “Ya, ada. Saya sangat mahir dalam fotografi. Saya suka fotografi, tetapi sekitar 15 tahun yang lalu saya tidak melakukannya lagi karena bisnis saya berkembang dan keluarga saya sibuk.”

Kenneth menceritakan kepada teman-temannya satu rencananya untuk dilakukan di paruh kedua hidupnya. “Saya sempat berpikir saya akan menjual bisnis saya dan masuk seminari dan terlibat di pelayanan,” katanya, “Tetapi saya seorang pembuat teh—inilah yang saya lakukan dan saya mahir dalam hal itu, dan saya menghasilkan banyak uang karena melakukannya. Jadi sebagai gantinya, saya akan mempekerjakan seseorang untuk memegang beberapa tanggung jawab saya di perusahaan saya, dan saya akan pergi dan membuat foto paling menarik dari anak yatim piatu yang cacat di Cina untuk menantang orang lain tergerak mendanai panti asuhan untuk anak-anak ini—kami bahkan akan mencetak foto anak-anak ini di balik kemasan teh yang kami jual di seluruh dunia. Dan saya akan pergi dan memastikan panti asuhan berjalan dengan baik.”

Dan itulah yang dia lakukan. Faktanya, ini adalah foto-foto hasil jepretannya dan foto-foto itu mewakili konvergensi hasratnya: keuntungan dari perusahaan teh, foto-foto yang menarik, dan anak-anak yatim piatu yang cacat, yang setiap hari tahu bahwa ada seseorang sangat mengasihi mereka. Kenneth baru-baru ini mendapatkan penghargaan bergengsi oleh pemerintah Cina untuk organisasi amalnya yang luar biasa—dia adalah warga negara asing pertama yang mendapatkan penghargaan tersebut.